RSS

Category Archives: astronomi

Sistem Tata Surya

Menguak Teka Teki Meteorit Yang Menabrak Bumi

Selama beberapa tahun terakhir ini, astronom menghadapi sebuah teka teki. Sebagian besar asteroid yang mendekati Bumi ternyata hanya sebagian kecil yang cocok dengan meteorit yang sering menghantam planet kita ini. Meteorit dan asteroid memang memiliki keterkaitan yang kuat, karenameteorit adalah pecahan dari asteroid yang menghantam sebuah planet. Perbedaan keduanya sangat sulit untuk dijelaskan, namun tim peneliti dari MIT dan institusi lainnya berhasil menemukan jawaban atas teka teki yang dihadapi itu.

Batuan kecil yang selama ini menghantam Bumi dan jatuh di permukaan planet kita tampaknya datang dari sabuk asteroid yang berada di antara Mars dan Jupiter dan bukan berasal dari populasi asteroid dekat Bumi atau yang dikenal sebagai NEA (near-Earth asteroid). Teka teki ini terkuak secara perlahan dari hasil penelitian jangka panjang terhadap asteroid oleh Richard Binzel (MIT), P Vernazza (ESA) dan A. T. Tokunaga (direktur University of Hawaii’s Institute of Astronomy).

Richard dan kawan-kawan mempelajari tanda dari spektrum asteroid dekat Bumi dan membandingkannya dengan sppektrum yang dihasilkan oleh ribuan meteorit yang menghantam Bumi. Hasilnya, ternyata 2/3 dari NEA cocok dengan tipe meteorit yang disebut LL chondrites. Tipe ini hanya sekitar 8% dari seluruh meteorit yang jatuh ke Bumi. Kok bisa? Mengapa bisa ada perbedaan antara objek yang menghantam Bumi dan objek besarnya? Tentu harus ada jawaban untuk itu. Dengan sejumlah besar set data jawaban pun dicari. Apakah sebuah kebetulan hanya 8 % yang cocok dengan NEA?

Jauh di sabuk utama asteroid, populasinya jauh lebih beragam dan ternyata tipe yang ada disana mendekati tipe yang ditemukan di Bumi. Pertanyaannya, kenapa justru yang sering menabrak kita cocok dengan populasi yang berada jauh dari Bumi dibanding populasi yang ada disekitar kita? Akhirnya muncul ide kalau ada objek yang bergerak cepat dalam lintasannya yang kemudian langsung menghantam Bumi. Pergerakan yang cepat ini diperkirakan disebabkan oleh efek tersembunyi yang ditemukan dulu, dan baru diketahui sekarang sebagai faktor signifikan yang menggerakan asteroid atau yang dikenal sebagai efek Yarkovsky.

Efek Yarkovsky menyebabkan asteroid mengubah orbitnya dan akibatnya asteroid ini menyerap sinar Matahari di satu sisi dan memantulkan kembali cahaya itu saat mereka berotasi. Hal ini menyebabkan ketidaksetimbangan yang secara perlahan mengubah garis edarnya.Tapi yang jadi kunci pentingnya, efek ini ternyata bekerja lebih kuat pada objek yang lebih kecil dam memiliki pengaruh yang lemah pada objek yang besar. Menurut Richard Binzel, efek yarkovsky ini sangat efisien untuk objek yang hanya berukuran beberapa meter dan berpengaruh pada objek di seluruh area sabuk asteroid.

Untuk gumpalan batuan yang hanya berukuran batu karang dan lebih kecil dari itu, efek Yarkovsky memainkan peran penting dalam menggerakan mereka dari sabuk asteroid ke garis edar yang bisa mengarahkan mereka ke Bumi. Sedangkan untuk asteroid yang lebih besar dengan ukuran lebih dari 1 km, asteroid yang selama ini jadi perhatian kita sekaligus meresahkan kita karena berpotensi menabrak Bumi, efek Yarkovsky ternyata sangat lemah efeknya dan hanya bisa sedikit memindahkan mereka.

Kesimpulan yang didapat Richard Binzel, asteroid dekat Bumi terbesar sebagian besar datag dari bagian dalam sabuk asteroid. Asteroid tersebut merupakan bagian dari keluarga sisa asteroid besar yang hancur akibat tabrakan. Dengan dorongan awal dari efek Yarkovsky, asteroid berukuran beberapa kilometer dari area Flora bisa menemukan diri mereka sendiri di sudut sabuk asteroid, yang kemudian dikirim menuju garis edar Bumi melalui efek gangguan planet yang kita sebut resonansi.

Penelitian ini akan berguna dalam usaha melindungi Bumi dari hantaan asteroid. Karena sebagaimana kita ketahui, masalah terbesar saat ini adalah mencari pemecahan terhadap asteroid yang bergerak mendekati Bumi. Jika satu saja berpotensi menabrak Bumi tentu cara penanganannya akan berbeda dengan asteroid lainnya karena mereka sangat bervariasi. Namun dengan adanya penelitian ini bisa diketahui kalo sebagian besar asteroid dekat Bumi merubakan objek batuan yang kaya mineral dan miskin besi. Hal ini memungkinkan kita untuk berkonsentrasi mencari pemecahan atas asteroid yang berpotensi menabrak Bumi.

sumber: langitselatan.com

 
Leave a comment

Posted by on August 16, 2008 in astronomi

 

Pulsar Ganda Membuktikan Kebenaran Teori Gravitasi Einstein

Tahun 1919, saat terjadi gerhana Matahari, untuk pertama kalinya teori relativitas umum milik Albert Einstein diuji oleh para astronom. Saat ini, gerhana dari sepasang sistem unik yang terdiri dari dua buah bintang mati yaitu pulsar, menunjukkan jika salah satu pasangannya bergoyang di angkasa. Efeknya, presesi yang terjadi ternyata sama dengan yang diprediksi oleh Einstein. Dengan demikian, teori Einstein kembali teruji dan bisa dikonfirmasi. Penemuan ini dilakukan oleh tim peneliti dari The University of Manchester’s Jodrell Bank Centre for Asthrophysics.Sistem bintang tersebut terdiri dari 2 pulsar yang terbentuk saat sepasang bintang masif meledak dan intinya runtuh, membentuk objek dengan massa lebih besar daripada massa Matahari.

Sistem pulsar ganda, yang saling mengorbit dalam waktu 145 menit. Kredit Gambar : Michael Kramer, University of Manchester

Namun, meskipun massanya lebih besar dari Matahari, objek tersebut mengalami pemampatan sampai ukurannya hanya mencapai ukuran sebuah kota di Bumi ini. Bintang pulsar ini berputar dengan kecepatan yang sangat menakjubkan dan memancarkan gelombang radio. Kedua pulsar tersebut PSR J0737-3039A/B, merupakan satu-satunya pasangan pulsar di Bimasakti yang diketahui terkunci dalam sebuah sistem yang orbitnya sangat dekat. Bahkan seluruh sistem pulsar ini bisa masuk dalam Matahari … jadi bisa dibayangkan orbitnya yang sangat dekat satu sama lain.

Sistem pulsar ganda PSR J0737-3039A/B. Kredit gambar : Daniel Cantin, DarwinDimensions. McGill University

Kedua pulsar tersebut ditemukan tahun 2003 dengan Teleskop Radio Parkes di Australia, dan sejak saat itu denyutan pulsar tersebut pun diamati secara terus menerus menggunakan beberapa teleskop, termasuk teleskop Lovell di Jodrell Bank dan Green Bank Telescope di Amerika Serikat. Pulsar ganda ini menciptakan kondisi ideal yang memungkinkan teori relativitas umum diuji karena semakin besar dan semakin dekat dua objek masif satu sama lain, efek relativistik yang terjadi juga semakin penting.Pulsar ganda merupakan tempat terbaik untuk menguji relativitas umum karena memiliki medan gravitasi yang sangat kuat. Menurut prediksi Einstein, dalam medan yang sangat kuat tersebut, sumbu rotasi objek akan mengalami presesi dan berubah arahnya secara perlahan saat pulsar tersebut mengorbit pulsar pasangannya. Sayangnya, pulsar terlalu kecil dan juga terlalu jauh untuk dapat diamati gerakannya secara langsung. Namun, karena keduanya mengorbit setiap 145 menit, saat salah satu pulsar berpapasan dengan pulsar pasangannya, astronom akan langsung bisa mengukur arah dan putaran sumbu si pulsar itu. Kok bisa? Ternyata, pada saat berpapasan dengan pulsar pasangannya atau saat terjadi gerhana, area magnet yang ada di sekitarnya menghalangi gelombang radio yang dipancarkan dari pulsar pasangannya. Setelah pengamatan dilakukan selama empat tahun, bisa dilihat jika putaran sumbunya memang mengalami presesi seperti yang diprediksi Einstein.

langit selatan.com

Sumber : Jodrell Bank Observatory

 

 
Leave a comment

Posted by on July 11, 2008 in astronomi

 

Venus

By ivie • Apr 3rd, 2008 at 6:57 pm • Category: Planet

ESA/ MPS/DLR/IDA.
Kredit Gambar : ESA/ MPS/DLR/IDA.

Venus sudah lama dikenal sebagai saudara kembar Bumi. Empat setengah milyar tahun yang lalu, keduanya terbentuk dengan radius, massa, kerapatan, bahkan komposisi kimia yang nyaris sama. Tapi, meskipun kembar dalam banyak hal, tetap saja ada perbedaannya. Venus dan Bumi memiliki iklim yang sangat berbeda satu sama lain.Analisis data European Venus Express menunjukkan penyebab-penyebab mengapa iklim kedua planet kembar ini sangat berbeda. Pada tahap awal pembentukan tata Surya, Venus sepertinya mengalami evolusi dengan cepat dibanding Bumi.

Data dari Venus Express memang mendukung teori jika saudara kembar Bumi ini pernah memiliki air yang menyelimuti permukaan dalam volume yang signifikan. Tapi, tampaknya lautan ini hilang dalam skala waktu geologi yang sangat singkat. Sebagai akibat dari kehilangan air, evolusi geologi permukaan Venus menjadi lebih lambat karena ia tidak dapat membentuk plat tektonik seperti di Bumi. Dengan demikian evolusi biologi juga tidak terjadi. Jadi, Venus sebagai Bumi yang lain di Tata Surya dalam hal iklim dan kondisi habitasi, ternyata berevolusi terlalu cepat pada awalnya dan kemudian evolusi itu menjadi terlalu lambat.

Di awal kelahiran mereka, Bumi dan Venus memang banyak memiliki kesamaan. Namun dalam perkembangannya, Venus ternyata mengalami kehilangan air yang cukup besar, sedangkan Bumi justru kelihalangan sejumlah besar karbondioksida. Di Bumi, CO2 terkunci dalam mineral pada kerak bumi, di lautan, dan unsur-unsur di dalam tumbuhan. Lepasnya sebagian karbondioksida ke atmosfer inilah yang sekarang kita kenal sebagai pemanasan global, dan menjadi penyebab terjadinya perubahan iklim. Di Venus, sebagian besar CO2 masih berada di atmosfer dan temperatur permukaannya sangat panas, mencapai 450 derajat Celsius. Bayangkan, jika kita ada di permukaan Venus, mungkin kita sudah gosong. Akibat dari banyaknya CO2 di atmosfer, evolusi geologi maupun biologi jadi terhenti. Kondisinya terlalu panas untuk bisa terbentuk kehidupan.

Yang menarik, fisis kedua planet ini ternyata sama, dan Venus Express menempatkan perilaku iklim kedua planet dalam kerangka umum yang bisa kita pahami. Saat ini, pekerjaan Venus Express masih belum berakhir, ia baru akan pensiun setelah bulan Mei 2009. Dan pekerjaan lanjutannya akan dilakukan bekerjasama dengan Jepang, melalui pesawat ruang angkasa Venus Climate Orbitter yang akan tiba di Venus bulan Desember 2010.

sumber: langitselatan.com

 
Leave a comment

Posted by on June 28, 2008 in astronomi

 

Hukum Galaxy…

By ivie • Jun 24th, 2008 at 8:06 am • Category: Galaksi

NASA, ESA, STScI & E. Beckwith
Pengujian hukum alam di galaksi jauh untuk melihat apakah hukum alam berlaku sama di semua tempat di alam semesta ini dan sama pada waktu yang berbeda pula. Kredit Gambar : Telescope: N. Junkes; Radio insets: A. Biggs; Intervening galaxy: NASA, ESA, STScI & W. Keel; Quasar: NASA, ESA, STScI & E. Beckwith

Hukum alam di seluruh penjuru alam semesta ternyata sama saja dengan yang ada di Bumi. Kesimpulan ini didapat oleh tim astronom yang melakukan penelitian, termasuk di dalamnya Chrisian Henkel dari Max Planck Institute for Radio Astronomy (MPIfR) di Bonn. Hasil penelitian mereka menunjukkan, angka perbandingan proton -elektron, hampir sama di Galaksi yang jaraknya 6 milyar tahun cahaya dengan yang ada di laboratorium di Bumi, yakni mendekati 1836,15Menurut Michael Murphy, astrofisikawan dari Swinburne, penemuan ini sangat penting karena sampai saat ini masih terjadi perdebatan apakah hukum alam akan berubah pada waktu dan tempat yang berbeda di alam semesta ini. Dengan adanya penelitian ini, bisa terbukti, hukum alam di Galaksi jauh ternyata sama degan hukum alam di Bumi.

Bagaimana kesimpulan ini bisa didapat? Para astronom melakukan penentuan rasio massa proton-elektron itu dengan melihat kembali ke masa lalu pada quasar jauh, B0218+367. Cahaya quasar tersebut ternyata membutuhkan waktu 7,5 milyar tahun untuk mencapai kita, dan sebagian cahaya tersebut juga telah diserap oleh gas amonia galaksi yang ia lewati.

Amonia yang dalam kehidupan sehari-hari kita kenal berguna untuk membersihkan toilet, ternyata merupakan molekul ideal untuk menguji pemahaman fisika di alam semesta. Observasi spektroskopi terhadap molekul amonia dilakukan dengan teleskop radio Effelsberg 100 meter pada panjang gelombang 2 cm (pergeseran merah 1,3 cm dari panjang gelombang asal). Panjang gelombang di mana amonia menyerap energi radio dari quasar ternyata menunjukan sensitivitas pada angka fisika nuklir, yakni perbandingan massa proton-elektron.

Dengan melakukan perbandingan terhadap penyerapan yang dilakukan amonia dengan penyerapan dari molekul lain, didapatkan perbandingan massa proton-elektron di galaksi tersebut. Dan ternyata, perbandingannya sama dengan yang ada di Bumi.

Penelitian ini akan terus dilanjutkan dengan meneliti hukum alam di galaksi lainnya untuk waktu yang berbeda, sehingga akan tampak apakah hukum alam tersebut akan tetap bertahan di tempat-tempat yang baru tersebut. Dengan penelitian yang akan terus berlanjut ini, para peneliti berharap bisa menemukan jendela menuju dimensi lain di ruang angkasa, yang secara teoretis dinyatakan mungkin ada.

 
Leave a comment

Posted by on June 28, 2008 in astronomi

 

Planet X Planet Nibiru

Bagian luar Tata Surya masih memiliki banyak planet-planet minor yang belum ditemukan. Sejak pencarian Planet X dimulai pada awal abad ke 20, kemungkinan akan adanya planet hipotetis yang mengorbit Matahari di balik Sabuk Kuiper telah membakar teori-teori Kiamat dan spekulasi bahwa Planet X sebenarnya merupakan saudara Matahari kita yang telah lama “hilang”. Tetapi, mengapa kita harus cemas duluan akan Planet X/Teori Kiamat ini? Planet X kan tidak lain hanya merupakan obyek hipotetis yang tidak diketahui?

Teori-teori ini didorong pula dengan adanya ramalan suku Maya akan kiamat dunia pada tahun 2012 (Mayan Prophecy) dan cerita mistis Bangsa Sumeria tentang Planet Nibiru, dan akhirnya kini memanas sebagai “ramalan kiamat” 21 Desember 2012. Namun, bukti-bukti astronomis yang digunakan untuk teori-teori ini benar-benar melenceng.

Pada 18 Juni kemarin, peneliti-peneliti Jepang mengumumkan berita bahwa pencarian teoretis mereka untuk sebuah massa besar di luar Tata Surya kita telah membuahkan hasil. Dari perhitungan mereka, mungkin saja terdapat sebuah planet yang sedikit lebih besar daripada sebuah objek Plutoid atau planet kerdil, tetapi tentu lebih kecil dari Bumi, yang mengorbit Matahari dengan jarak lebih dari 100 SA. Tetapi, sebelum kita terhanyut pada penemuan ini, planet ini bukan Nibiru, dan bukan pula bukti akan berakhirnya dunia ini pada 2012. Penemuan ini adalah penemuan baru dan merupakan perkembangan yang sangat menarik dalam pencarian planet-planet minor di balik Sabuk Kuiper.

Dalam simulasi teoretis, dua orang peneliti Jepang telah menyimpulkan bahwa bagian paling luar dari Tata Surya kita mungkin mengandung planet yang belum ditemukan. Patryk Lykawa dan Tadashi Mukai dari Universitas Kobe telah mempublikasikan paper mereka dalam Astrophysical Journal. Paper mereka menjelaskan tentang planet minor yang mereka yakini berinteraksi dengan Sabuk Kuiper yang misterius itu.

Kuiper Belt Objects (KBOs)

NASA
Sedna, salah satu objek di Sabuk Kuipert. Kredit : NASA

Sabuk Kuiper menempati wilayah yang sangat luas di Tata Surya kita, kira-kira 30-50 SA dari Matahari, dan mengandung sejumlah besar objek-objek batuan dan metalik. Objek terbesar yang diketahui adalah planet kerdil (Plutoid) Eris. Telah lama diketahui, Sabuk Kuiper memiliki karakteristik yang aneh, yang mungkin menandakan keberadaan sebuah benda (planet) besar yang mengorbit Matahari dibalik Sabuk Kuiper. Salah satu karakterikstik tersebut adalah yang disebut dengan “Kuiper Cliff” atau Jurang Kuiper yang terdapat pada jarak 50 SA. Ini merupakan akhir dari Sabuk Kuiper yang tiba-tiba, dan sangat sedikit objek Sabuk Kuiper yang telah dapat diamati di balik titik ini. Jurang ini tidak dapat dihubungkan terhadap resonansi orbital dengan planet-planet masif seperti Neptunus, dan tampaknya tidak terjadi kesalahan (error) pengamatan. Banyak ahli astronomi percaya bahwa akhir yang tiba-tiba dalam populasi Sabuk Kuiper tersebut dapat disebabkan oleh planet yang belum ditemukan, yang mungkin sebesar Bumi. Objek inilah yang diyakini Lykawka dan Mukai, dan telah mereka perhitungkan keberadaannya.

Para peneliti Jepang ini memprediksikan sebuah objek besar, yang massanya 30-70 % massa Bumi, mengorbit Matahari pada jarak 100-200 SA. Objek ini mungkin juga dapat membantu menjelaskan mengapa sebagian objek Sabuk Kuiper dan objek Trans-Neptunian (TNO) memiliki beberapa karakteristik orbital yang aneh, contohnya Sedna.

NASA
Objek-objek trans Neptunian. Kredit : NASA

Sejak ditemukannya Pluto pada tahun 1930, para astronom telah mencari objek lain yang lebih masif, yang dapat menjelaskan gangguan orbital yang diamati pada orbit Neptunus dan Uranus. Pencarian ini dikenal sebagai “Pencarian Planet X”, yang diartikan secara harfiah sebagai “pencarian planet yang belum teridentifikasi”. Pada tahun 1980an gangguan orbital ini dianggap sebagai kesalahan (error) pengamatan. Oleh karena itu, pencarian ilmiah akan Planet X dewasa ini adalah pencarian untuk objek Sabuk Kuiper yang besar, atau pencarian planet minor. Meskipun Planet X mungkin tidak akan sebesar massa Bumi, para peneliti masih akan tetap tertarik untuk mencari objek-objek Kuiper lain, yang mungkin seukuran Plutoid, mungkin juga sedikit lebih besar, tetapi tidak terlalu besar.

“The interesting thing for me is the suggestion of the kinds of very interesting objects that may yet await discovery in the outer solar system. We are still scratching the edges of that region of the solar system, and I expect many surprises await us with the future deeper surveys.” – Mark Sykes, Direktur Planetary Science Institute (PSI) di Arizona.

Planet X Tidaklah Menakutkan
Jadi, dari mana Nibiru ini berasal? Pada tahun 1976, sebuah buku kontroversial berjudul The Twelfth Planet atau Planet Kedua belas ditulis oleh Zecharian Sitchin. Sitchin telah menerjemahkan tulisan-tulisan kuno Sumeria yang berbentuk baji (bentuk tulisan yang diketahui paling kuno). Tulisan berumur 6.000 tahun ini mengungkapkan bahwa ras alien yang dikenal sebagai Anunnaki dari planet yang disebut Nibiru, mendarat di Bumi. Ringkas cerita, Anunnaki memodifikasi gen primata di Bumi untuk menciptakan homo sapiens sebagai budak mereka.

Ketika Anunnaki meninggalkan Bumi, mereka membiarkan kita memerintah Bumi ini hingga saatnya mereka kembali nanti. Semua ini mungkin tampak sedikit fantastis, dan mungkin juga sedikit terlalu detail jika mengingat semua ini merupakan terjemahan harfiah dari suatu tulisan kuno berusia 6.000 tahun. Pekerjaan Sitchin ini telah diabaikan oleh komunitas ilmiah sebagaimana metode interpretasinya dianggap imajinatif. Meskipun demikian, banyak juga yang mendengar Sitchin, dan meyakini bahwa Nibiru (dengan orbitnya yang sangat eksentrik dalam mengelilingi Matahari) akan kembali, mungkin pada tahun 2012 untuk menyebabkan semua kehancuran dan terror-teror di Bumi ini. Dari “penemuan” astronomis yang meragukan inilah hipotesis Kiamat 2012 Planet X didasarkan. Lalu, bagaimanakah Planet X dianggap sebagai perwujudan dari Nibiru?

Kemudian terdapat juga “penemuan katai coklat di luar Tata Surya kita” dari IRAS pada tahun 1984 dan “pengumuman NASA akan planet bermassa 4-8 massa Bumi yang sedang menuju Bumi” pada tahun 1933. Para pendukung hipotesis kiamat ini bergantung pada penemuan astronomis tersebut, sebagai bukti bahwa Nibiru sebenarnya adalah Planet X yang telah lama dicari para astronom selama abad ini. Tidak hanya itu, dengan memanipulasi fakta-fakta tentang penelitian-penelitian ilmiah, mereka “membuktikan” bahwa Nibiru sedang menuju kita (Bumi), dan pada tahun 2012, benda masif ini akan memasuki bagian dalam Tata Surya kita, menyebabkan gangguan gravitasi.

Dalam pendefinisian yang paling murni, Planet X adalah planet yang belum diketahui, yang mungkin secara teoretis mengorbit Matahari jauh di balik Sabuk Kuiper. Jika penemuan beberapa hari lalu memang akhirnya mengarah pada pengamatan sebuah planet atau Plutoid, maka hal ini akan menjadi penemuan luar biasa yang membantu kita memahami evolusi dan karakteristik misterius bagian luar Tata Surya kita.

sumber: langitselatan.com

 
Leave a comment

Posted by on June 28, 2008 in astronomi

 
 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.