RSS

Sebuah Renungan

12 Sep

uhh.. gak tau kenapa hari ini kepalaku terasa mau pecah, banyak bgt masalah yang aku hadapi. merasa paling benar dan selalu menyalahkan orang lain…

pi semua itu berubah setelah membaca sedikit crita dari rumahrenungan.com

😀

maafkan ak ya hari ini… ak cinta kalian semuaaaaaaaaaaaa………

Thanksgiving Day

Hari Thanksgiving sudah dekat. Ibu guru kelas 1 SD memberikan sebuah tugas yang mengasyikkan yaitu untuk menggambar sesuatu yang sangat mereka syukuri. Kebanyakan anak-anak di kelas itu bukanlah dari kalangan berada, tetapi mereka semua merayakan hari libur itu dengan kalkun panggang dan benda-benda tradisi hari Thanksgiving. Benda-benda inilah yang menurut pikiran ibu guru itu, akan menjadi subyek gambar murid-muridnya. Dan ternyata benar, kebanyakan dari mereka menggambar benda-benda itu.

Tetapi Douglas membuat gambar yang berbeda. Douglas adalah anak yang baik. Dia adalah anak kesayangan ibu guru itu. Saat anak-anak lainnya bermain di jam istirahat, Douglas lebih suka berada di dekat ibu guru. Orang hanya bisa menduga kalau Douglas punya kesedihan yang mendalam.

Ya, gambarnya berbeda. Ketika diminta untuk menggambar sesuatu yang membuatnya bersyukur, Douglas menggamar sebuah tangan. Tidak ada yang lain. Hanya sebuah yang kosong.

Gambarnya yang abstrak itu menjadi perhatian teman-temannya. Tangan siapa itu? Seorang anak menebak, itu adalah tangan seorang petani, karena petani yang berternak kalkun. Yang lain menebaknya tangan seorang polisi, karena polisi melindungi dan peduli kepada masyarakat. Ada juga yang menebaknya tangan Tuhan, karena Tuhan yang menciptakan hari Thanksgiving. Perdebatan itu berlanjut sampai ibu guru hampir melupakan pelukis yang menggambarnya.

Ketika anak-anak lain telah pergi, ibu guru itu berhenti di meja Douglas, membungkuk dan bertanya kepadanya, “Tanga siapa itu?”. Anak kecil itu mendongak ke wajah ibu guru dan menjawab, “Itu adalah tanganmu, ibu guru.”. Ibu guru teringat saat-saat dimana ia memegang tangan Douglas dan berjalan bersamanya. Seberapa sering ia berkata, “Pegang tanganku Douglas, kita berjalan keluar.” Atau, “Perhatikan ibu guru ya.” Atau, “Mari kita lakukan bersama.” Douglas sangat bersyukur karena tangan ibu guru. Sambil mengusap air matanya, ibu guru memeluk Douglas, “Terima kasih”.

Bersyukurlah karena ada orang-orang disekitarmu, yang memegang tanganmu ketika kamu tertinggal. Mereka yang berkata, “Mari kita lakukan bersama-sama”. Yang selalu bilang, “Jangan ungkit masa lalu lagi, kamu sudah dimaafkan.” Bersyukur karena di antara orang-orang yang meninggalkanmu, masih ada mereka yang selalu mendukungmu.

Sepotong Kue Dari Tuhan

Kadang kita bertanya dlm hati & menyalahkan Tuhan, “Apa yg telah saya lakukan sampai saya harus mengalami ini semua ?” atau “Kenapa Tuhan membiarkan ini semua terjadi pada saya?”.

Here is a wonderful explanation…

Seorang anak memberitahu ibunya kalau segala sesuatu tidak berjalan seperti yang dia harapkan. Dia mendapatkan nilai jelek dalam raport, putus dengan pacarnya, dan sahabat terbaiknya pindah ke luar kota.

Saat itu ibunya sedang membuat kue, dan menawarkan apakah anaknya mau mencicipinya, dengan senang hati dia berkata, “Tentu saja, I love your cake.”

“Nih, cicipi mentega ini,” kata Ibunya menawarkan. “Yaiks,” ujar anaknya.

“Bagaimana dengan telur mentah ?”

“You’re kidding me, Mom.”

“Mau coba tepung terigu atau baking soda ?”

“Mom, semua itu menjijikkan.”

Lalu Ibunya menjawab, “ya, semua itu memang kelihatannya tidak enak jika dilihat satu per satu. Tapi jika dicampur jadi satu melalui satu proses yang benar, akan menjadi kue yang enak.” Tuhan bekerja dengan cara yang sama.

Seringkali kita bertanya kenapa Dia membiarkan kita melalui masa-masa yang sulit dan tidak menyenangkan. Tapi Tuhan tahu jika Dia membiarkan semuanya terjadi satu per satu sesuai dgn rancanganNya, segala sesuatunya akan menjadi sempurna tepat pada waktunya. Kita hanya perlu percaya proses ini diperlukan untuk menyempurnakan hidup kita. Tuhan teramat sangat mencintai kita. Dia mengirimkan bunga setiap musim semi, sinar matahari setiap pagi. Setiap saat kita ingin bicara, Dia akan mendengarkan. Dia ada setiap saat kita membutuhkanNya, Dia ada di setiap tempat, dan Dia memilih untuk berdiam di hati kita.

Jika anda merasa terberkati dengan artikel ini, kirimkan pada teman-teman yang anda kasihi, I already did…

 
1 Comment

Posted by on September 12, 2008 in Kehidupan

 

One response to “Sebuah Renungan

  1. tofanri

    September 13, 2008 at 6:25 am

    tenang aza kok, mumpung suasana bulan ramadan nech
    mari kita saling memaafkan. maaf juga yach kalo ada kata2 n tindakan2 yg silaf or tidak berkenan di hati.
    namanya juga manusia, pasti ada kesalahan ^_^

     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: